Penguatan Ketahanan Energi Nasional: Strategi Minerba dan Kolaborasi Industri–Perguruan Tinggi


Jakarta, 16 April 2026 — Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Tri Winarno, menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan dalam keynote speech pada Seminar dan Konvensi Nasional BK Tambang Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2026 bertajuk “Ketahanan Energi Indonesia: Adaptasi dan Strategi dalam Konteks Geopolitik Global.”

Dalam sambutannya, Tri Winarno menyoroti bahwa energi kini tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan telah menjadi instrumen strategis yang menentukan stabilitas nasional dan daya saing negara. “Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, energi menjadi fondasi kedaulatan. Indonesia harus mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan memimpin dalam lanskap energi global,” ujarnya.

Dirjen Minerba menjelaskan bahwa tantangan global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi harga energi menuntut Indonesia untuk memperkuat strategi ketahanan energi nasional. Dalam konteks tersebut, sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memegang peran vital.

Dalam paparannya, sektor minyak dan gas bumi masih menjadi tulang punggung pemenuhan energi nasional, dengan cadangan minyak mencapai 2,32–4,4 miliar barel dan gas bumi sekitar 34,78–55,85 triliun kaki kubik. Sementara itu, sektor mineral dan batubara tetap menjadi andalan, dengan kontribusi batubara lebih dari 60 persen terhadap pembangkit listrik nasional serta cadangan mencapai 31,95 miliar ton.

“Indonesia juga memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global, khususnya untuk mineral kritis seperti nikel, di mana kita memiliki cadangan terbesar di dunia,” tambahnya.

Lebih lanjut, Tri Winarno menekankan pentingnya percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai bagian dari transisi energi. Pemerintah telah menetapkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dengan target penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, di mana 61 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan.

Sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita, pemerintah mengedepankan empat prinsip utama energi, yakni ketersediaan, keterjangkauan, keberlanjutan, dan kedaulatan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menjalankan tiga strategi utama, yaitu menjaga stabilitas energi nasional melalui optimalisasi produksi migas dan pemanfaatan batubara, mendorong transformasi energi melalui pengembangan EBT dan ekosistem kendaraan listrik, serta memperkuat tata kelola dan iklim investasi melalui reformasi regulasi dan digitalisasi layanan.

Dalam hal ini, Tri Winarno menyoroti pentingnya peran insinyur dalam mendukung transformasi energi nasional. Menurutnya, insinyur menjadi penghubung antara kebijakan dan implementasi di lapangan, sehingga diperlukan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan inovatif.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, dalam sambutannya menyoroti pentingnya penguatan kapasitas nasional dalam mengelola kekayaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan berdaya saing global.

Lebih lanjut, Prof. Brian mengidentifikasi tiga tantangan utama yang perlu segera diatasi. Pertama, ketergantungan terhadap teknologi impor dalam proses pengolahan dan pemurnian mineral yang masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan perlunya percepatan penguasaan teknologi nasional.

Kedua, masih lebarnya kesenjangan antara dunia riset dan kebutuhan industri. Ia menilai bahwa banyak hasil penelitian di perguruan tinggi yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan industri, sementara di sisi lain kebutuhan industri belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi agenda riset.

Kami sangat mendorong industri-industri untuk memberikan PR-PR kepada kami di perguruan tinggi. Bagaimana riset-risetnya, kajian-kajiannya mampu mendukung apa yang dibutuhkan untuk kebutuhan mineral Indonesia,” jelasnya.

Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan transformasi sektor energi dan mineral ke depan. (dp)

sumber: HumasMinerba