ESG dan Hilirisasi Jadi Kunci Pertambangan Berkelanjutan, Generasi Muda Didorong Ambil Peran

Talkshow bertajuk “Sustainability Mining for The Future: ESG Integration & Cross-Disciplinary Perspectives” diselenggarakan oleh PT Vale Indonesia Tbk bekerja sama dengan Yayasan Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia di Universitas Indonesia, Kamis (12/02).

Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi sebagai bagian dari kolaborasi edukasi kampus untuk mendorong literasi publik mengenai praktik pertambangan berkelanjutan melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) dan perspektif lintas disiplin.

Sebagai sektor strategis, industri pertambangan berkontribusi sekitar 12 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada tahun 2025, target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor Mineral dan Batubara (Minerba) ditetapkan sebesar Rp124,71 triliun. Realisasi PNBP Minerba mencapai Rp135,06 triliun atau 108,30?ri target, serta menyerap lebih dari 680.510 tenaga kerja.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menyampaikan, “Mineral sebagai sumber daya tidak terbarukan harus dikelola secara bertanggung jawab. Hilirisasi menjadi kunci karena mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi hingga 64 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah.”

Meski memberikan kontribusi besar, industri pertambangan juga menghadapi tantangan seperti emisi karbon, dampak sosial di wilayah tambang, serta pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja pascatambang. Kompleksitas tersebut menuntut pendekatan komprehensif yang mencakup aspek teknis, sosial, lingkungan, keselamatan kerja, dan tata kelola.

Lebih lanjut, Siti Sumilah Rita Susilawati menyampaikan, “Indonesia memiliki 4.227 tambang dari skala besar hingga kecil, yang sebagian di antaranya belum sepenuhnya memahami konsep ESG dan pengelolaan lingkungan. Cadangan mineral seperti nikel diperkirakan dapat habis dalam 31 tahun apabila eksplorasi tidak ditingkatkan.”

Seiring meningkatnya perhatian terhadap prinsip ESG, praktik pertambangan berkelanjutan menjadi kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Implementasinya memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran strategis perguruan tinggi.

Siti Sumilah Rita Susilawati menambahkan, “Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam, melalui peningkatan pengawasan, edukasi masyarakat, serta penguatan implementasi prinsip ESG guna mengatasi tantangan kepatuhan sosial dan lingkungan.”

Sebagai penutup, Siti Sumilah Rita Susilawati menegaskan, “Generasi muda diharapkan mengambil peran aktif dalam menjaga dan mengelola kekayaan alam Indonesia secara berkelanjutan.”

Kegiatan ini diharapkan menjadi forum strategis yang memperkuat pemahaman lintas disiplin mengenai pertambangan berkelanjutan sekaligus mendorong peran aktif generasi muda dalam mendukung transformasi hijau industri pertambangan Indonesia. (SA)

sumber: HumasMinerba