Bangun Empat Proyek, Bukit Asam Butuh US$ 224 Juta
JAKARTA - Suara Pembaruan - PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (Bukit Asam) membutuhkan dana sekitar US$ 224 juta untuk pembangunan empat proyek, yakni tiga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan jalur kereta api (KA).
Menurut Dirut Bukit Asam, Ismet Harmaini, jumlah dana tersebut merupakan porsi pembiayaan yang akan ditanggung perusahaan pertambangan itu. Pembangunan megaproyek tiga PLTU itu sendiri US$ 2,3 miliar dan jalur angkutan kereta api Rp 1,6 triliun.
"Dana tersebut belum final karena masih menunggu persetujuan PLN atas proposal yang sudah kami ajukan untuk pembangunan PLTU Peranap," kata Ismet, Rabu (15/12).
Menurut dia, megaproyek tiga PLTU yang akan dibangun masing-masing PLTU Banjarsari, PLTU Peranap, PLTU Banko Tengah, dan pembangunan rel KA Tarahan-Kertapati yang menjadi jalur angkutan batu bara dari Muara Enim, Sumatera Selatan, ke Lampung.
Untuk proyek PLTU Banjarsari, skenario pendanaan adalah 70 persen berasal dari pinjaman dan 30 persen equity. Proyek tersebut akan dibangun oleh konsorsium, yakni Bukit Asam dengan komposisi 41 persen, PT NII 39 persen, dan PT PJB 20 persen.
Total kebutuhan investasi proyek PLTU Banjarsari yang mempunyai kekuatan 2 kali 100 megawatt itu, mencapai US$ 203 juta. Namun porsi Bukit Asam sekitar US$ 24,969 juta. PLTU Banjarsari direncanakan beroperasi pada pertengahan 2008, tetapi pembentukan konsorsium mulai dilakukan pada 2005.
Untuk PLTU Peranap yang memiliki kekuatan 2 kali 250 megawatt, Bukit Asam akan bekerja sama dengan Indonesia Power dan Pemerintah Provinsi Riau. Skenario pendanaan PLTU yang direncanakan beroperasi pada pertengahan tahun 2009 itu, adalah 70 persen pinjaman dan 30 persen equity.
Bukit Asam hanya akan menjadi pemegang saham minoritas dan akan mengucurkan dana sekitar US$ 40 juta. Sedangkan proyek PLTU Banko yang memiliki kekuatan 4 kali 600 megawatt kebutuhan investasinya mencapai US$ 1,6 miliar. Bukit Asam akan bekerja sama dengan PT Indika Inti Energi (PT IIE) dan China Huadian Development (CHD) untuk pembangunan PLTU yang direncanakan beroperasi pada 2009.
Skenario pendanaannya adalah 85 persen pinjaman dan 15 persen equity. Dana yang berasal dari pinjaman akan diusahakan oleh CHD, sedangkan equity yang sebesar US$ 240 juta akan dibagi tiga, yakni Bukit Asam 20,1 persen, PTIIE 24,9 persen dan CHD 55 persen. Jadi, dana yang menjadi porsi Bukit Asam sekitar US$ 48 juta.
Sedangkan untuk proyek pembangunan rel KA Tarahan-Kertapati yang menjadi jalur angkutan batu bara dari Muara Enim ke Lampung, total dana yang dibutuhkan sekitar Rp 1,67 triliun. Proyek tersebut, akan dibangun Bukit Asam bersama PT Kereta Api (PT KA) dan PT Indonesia Power (PT IP).
"Pendanaannya melalui crash programme, kami hanya menyediakan dana sebesar US$ 110 juta. Diharapkan pada Juli 2005 proyek itu sudah bisa dijalankan," ujar Ismet.
Bukit Asam juga telah menyiapkan dana US$ 18 sampai US$ 20 juta untuk mengakuisisi salah satu tambang batu bara di